Sinopsis
Setelah didiagnosis dengan tukak lambung ringan pada pagi hari di rumah sakit, Siti melangkah pulang dengan hati yang muram. Tanpa disengaja, langkahnya membawanya ke sebuah kafe bernama 'SampTom' yang dipajang dengan papan nama yang asing baginya. Begitu ia memasuki kafe, ia melihat seorang pria di balik konter yang tersenyum, sangat mirip dengan rekan kerjanya yang seharusnya sedang bertugas di luar negeri. Meskipun dipenuhi dengan kekagetan dan kecemasan, tak lama setelah ia meninggalkan kafe, ia menerima kabar mengejutkan bahwa rekan kerjanya telah meninggal dunia secara mendadak.
Beberapa hari kemudian, dengan hati yang berat, ia kembali mengunjungi 'SampTom' dan kali ini bertemu dengan sepupu yang membawa kembali bayangan masa kecilnya. Meskipun mereka saling menyapa dengan senyum hangat, hanya beberapa menit kemudian, kabar mengejutkan kembali terdengar. Di tengah hilangnya nyawa orang-orang terdekat satu demi satu, bayangan kecemasan mulai merayapi hatinya.
Tak lama kemudian, ia melihat guru semasa kuliahnya berdiri diam di sudut kafe. Senyum hangat yang dulu menghiasi cerita-cerita masa lalu muncul sekejap sebelum tiba-tiba menghilang, sehingga yang tersisa hanyalah desas-desus samar di telinganya. Di tengah perpaduan antara ketakutan dan rasa ingin tahu, Siti bertekad untuk mengungkap misteri yang tersembunyi di balik 'SampTom'.
Pada suatu malam ketika ia kembali mengunjungi kafe, dalam cahaya lembut yang berbeda dari biasanya, ia berdiri di hadapan sebuah cermin tua di bagian dalam kafe. Di dalam cermin itu, tampak bayangan sosok-sosok yang telah ia temui bertumpang tindih hingga membentuk satu wujud utuh. Dengan perasaan terkejut, ia menyadari bahwa yang selama ini ia lihat bukanlah orang lain, melainkan bayangan dari masa lalu, masa kini, dan masa depan dirinya – wujud dari dirinya sendiri. 'SampTom' adalah pintu ilusi yang terletak di antara kematian dan kelahiran kembali, sebuah cerminan dari takdir yang tersembunyi di dalam jiwanya.
Twist – Setiap pertemuan ternyata merupakan pesan sedih yang mengisyaratkan akhir dari diri sendiri. Di saat terakhir, Siti yang muncul di cermin tersenyum sambil berbisik, 'Mungkin, aku sudah mati.' Bersamaan dengan kata-kata itu, ia perlahan menghilang, seolah tersedot ke dalam celah antara kenyataan dan ilusi.

















































