Sinopsis
Mariani selalu hidup dengan mengenakan pakaian sederhana dan menghindari sorotan. Namun, ia menyimpan rahasia yang tidak pernah bisa diceritakannya kepada siapapun. Setiap kali dipuji, tanpa sadar tangannya meraih benda-benda kecil di sekitarnya dan ia mencurinya; kebiasaan aneh ini telah ada sejak masa kecilnya. Pujian yang diterimanya membangkitkan keinginan yang belum terpuaskan di dalam dirinya, sehingga suatu ketika dorongan itu menjadi tak terkendali.
Suatu hari, Mariani secara kebetulan bertemu dengan Rizal Santosa di sebuah kafe yang tenang. Dengan kata-kata hangat dan tulus, Rizal memuji penampilan sederhana Mariani. Pada saat itulah tubuh Mariani bereaksi secara aneh – ia otomatis meraih sebuah liontin antik kecil yang terletak di atas meja Rizal. Tanpa disadari, liontin itu telah ia curi, memancarkan aura yang penuh kenangan dan menyentuh sesuatu dalam hatinya.
Sejak hari itu, Mariani harus menghadapi kebiasaannya sendiri. Rizal berulang kali menyampaikan kata-kata lembut untuk menenangkan dirinya, namun pada saat yang sama, Mariani mulai menyadari alur nasib misterius yang ditimbulkan oleh tindakannya. Barang-barang yang ia curi ternyata secara kebetulan memiliki tema yang sama, masing-masing dianggap sebagai bagian dari harta karun yang tersebar, yang dulunya ditinggalkan oleh seorang seniman terkenal.
Dalam penyelidikan lebih lanjut, Mariani dihadapkan pada kenyataan yang mengejutkan. Ternyata, keluarganya selama ini terjebak dalam takdir misterius yang disebut 'Kutukan Terpesona oleh Keindahan', di mana pujian justru menjadi pemicu untuk membangunkannya. Lebih mengejutkan lagi, Rizal Santosa ternyata adalah pewaris tersembunyi sang seniman, yang dengan sengaja mendekati Mariani untuk mendapatkan kembali harta karun yang hilang akibat tindakan tidak sadar Mariani.
Pada klimaks cerita, Mariani menemukan sebuah ukiran halus pada liontin terakhir yang ia curi. Ukiran itu ternyata merupakan kunci untuk mengangkat kutukan keluarganya dan membuktikan bahwa kebiasaannya memiliki kekuatan untuk mengubah takdir. Sebagai penutup, Rizal dengan tenang berkata, "Kebiasaanmu telah memungkinkan kita mengembalikan keindahan seni yang hilang serta mempererat ikatan keluarga." Tanpa merasa malu atas kebiasaan anehnya, Mariani justru menyadari bahwa hal itu adalah sebuah keajaiban yang menuntunnya menuju masa depan, dan ia pun melangkah maju untuk membuka babak baru dalam hidupnya.

















































