Sinopsis
Budi Santoso dan istrinya, Siti Aminah, telah menyendiri di sebuah ruangan khusus pada hari ulang tahun pernikahan mereka untuk menikmati perayaan rahasia dalam malam yang tenang. Di ruangan yang diyakini sebagai dunia milik mereka berdua, awalnya hanya terdengar suara-suara kecil dan dering telepon yang tiba-tiba, namun secara perlahan bayang-bayang ketidaktenangan mulai mendekat. Siti Aminah pun melihat sosok asing dari balik jendela, dan kebisingan luar yang tak berhenti mengganggu ketenangan hati mereka.
Tak lama kemudian, kecemasan yang menumpuk dan rasa frustrasi berubah menjadi pertengkaran sengit. Budi Santoso, yang nyaris kehilangan kendali karena amarahnya, secara impulsif memberikan pukulan kepada Siti Aminah. Pukulan itu menandai titik di mana takdir tak lagi bisa diubah, mendorong sang istri tercinta menuju akhir yang merenggut nyawanya. Di hadapan tubuh Siti Aminah yang tergeletak, Budi Santoso terguncang oleh impuls dan pengkhianatan terhadap dirinya sendiri, menjerit dalam tangis dan keputusasaan.
Namun, di tengah jurang keputusasaan itu, tiba-tiba seluruh ruangan diselimuti oleh cahaya yang menyilaukan. Waktu seakan berbalik, membawa segala sesuatu kembali dalam sekejap dengan perasaan yang tak terjelaskan. Momen tragis itu, seolah telah dihapus, tergantikan dengan kembalinya kesunyian malam. Budi Santoso, sambil menghadapi dosa dan penyesalan yang terukir dalam ingatannya, merasakan kebingungan sekaligus harapan akan kesempatan kedua yang diberikan kepadanya.
Kedatangan malam yang baru mengisyaratkan nasib yang tak terelakkan sekaligus kemungkinan fana untuk memperbaiki masa lalu. Namun, lingkaran waktu yang penuh misteri itu terus mempertanyakan: mungkinkah suatu hari ia akan terbebas dari kembalinya mimpi buruk ini? Di bawah beban dosa pembunuhan yang tak terhapuskan dan penyesalan yang abadi, Budi Santoso hanya terdiam, terus mencari cara untuk melawan takdirnya sendiri.

















































