Sinopsis
Itu terjadi suatu hari, tepat satu bulan yang lalu. Agus terus-menerus mengadakan pertemuan rahasia dengan Intan, seorang tukang cukur yang dengan pendekatan cerdiknya telah memikat hati Agus, meskipun ia telah berhubungan dengan kekasihnya, Sinta, yang ternyata adalah sahabat dekat Intan. Namun, Agus selalu dihantui oleh rasa bersalah akibat pengkhianatannya, serta ketakutan akan rahasia memalukan yang telah ia simpan sejak kecil―yakni, kenyataannya, telinganya panjang seperti keledai.
Suatu hari, ketika Agus melewati lokasi konstruksi besar yang sedang berlangsung di lingkungan sekitar, ia mendengar sebuah suara aneh yang teramid di tengah hiruk-pikuk suara pembangunan. Suara itu memiliki gema lembut bak bisikan Intan, namun terdengar seolah mengejek. Seiring berjalannya waktu, suara itu semakin jelas seolah-olah membangkitkan dosa dan rasa malu yang tersimpan dalam hati Agus, seakan dihidupkan oleh sihir.
Tak mampu menahan beban, Agus akhirnya mendesak Intan untuk memberi penjelasan. Dengan mata berkaca-kaca, Intan mengaku bahwa ia pun pernah menyimpan rahasia memalukan mengenai penampilannya. Menurut cerita rakyat, lubang besar di lokasi konstruksi itu bagaikan cermin ajaib yang mampu mengungkap kebenaran tersembunyi dalam diri setiap orang. Intan merasakan bahwa suara misterius dari lubang tersebut akan membongkar pengkhianatan yang selama ini Agus coba hindari, serta memaparkan kelemahannya―yaitu, telinganya yang panjang bak keledai.
Pada hari takdir, Agus, Intan, dan Sinta―yang telah mengetahui segalanya―berkumpul di lokasi konstruksi tersebut. Dari dalam lubang itu, terdengar gema suara Intan yang penuh kesedihan dan rahasia Agus yang tak lagi bisa disembunyikan, menggema seolah memenuhi seluruh ruang. Sinta pun berkata dengan lembut, "Meski kamu berusaha menyembunyikannya, kebenaran telah terpatri di dalam hati kita." Pada saat itu, dengan keputusasaan atas kepalsuan dan kelemahannya, Agus akhirnya bertekad untuk menerima, untuk pertama kalinya, 'telinga keledainya'.
Akhirnya, rahasia itu terungkap ke dunia, dan hari-hari yang selama ini diwarnai kepalsuan mencapai akhirnya. "Telinga Raja Seperti Telinga Keledai"―bahwa tidak peduli seberapa besar kekuasaan atau pesona seseorang, kebenaran tersembunyi akan selalu terungkap pada akhirnya―menjadi nasib yang pahit dan ironis yang telah terukir dalam takdir mereka.

















































