Sinopsis
Aku bertanggung jawab menjaga dinding yang menyegel roh kuno, menghabiskan waktuku dengan tenang di pojok sebuah toko permen. Ibu Sari, sang pemilik toko, setiap hari bercerita kepada anak-anak yang berkumpul di sana tentang kisah ajaib bahwa seorang pendeta saleh telah menyegel roh yang pernah menyerang manusia ke dalam dinding itu. Cerita itu disampaikan dengan nada syahdu, meninggalkan kesan mendalam di hati setiap pendengarnya.
Pada suatu malam hujan, seakan memecah keheningan toko, tiga anak nakal tiba-tiba muncul menuntut agar toko dikosongkan. Mereka meneriakkan ancaman dengan suara keras dan mengacau ke seluruh sudut toko. Ibu Sari tidak terguncang; dengan senyum lembut dan doa kecil, ia tetap tenang, sementara aku bergegas menuju pintu rahasia yang mengarah ke sebuah ruangan. Di balik pintu itu, berdiri sebuah dinding tua yang sunyi, menyimpan memori waktu.
Ketika ujung jariku menyentuh dinding yang dingin dan keras, terdengar bisikan lembut dan kekuatan tersegel mulai mengguncang sekeliling. Tiba-tiba, bayangan hitam meluber keluar dari dinding, dan roh yang telah lama terkurung pun bangkit. Namun, sosok itu bukanlah monster mengerikan seperti yang dibayangkan, melainkan tampak seperti seorang anak kecil dengan ekspresi polos, seolah tersenyum.
Pada saat itu, roh itu bertanya, "Apakah engkau benar-benar hanya percaya pada kemarahan?" Para anak nakal terkejut dan sejenak terdiam, lalu perlahan-lahan melarikan diri dari tempat itu. Ibu Sari menambahkan dengan tenang sambil tersenyum, "Segel ini bukanlah rantai kemarahan semata, melainkan penjaga benih harapan yang hampir terlupakan dan kunci menuju kebangkitan kembali."
Aku pun menyadari bahwa tugasku selama ini—menjaga dinding dalam bayang-bayang ketakutan dan kecemasan—ternyata telah disalahpahami. Kemarahan roh itu bukan untuk menghancurkan, melainkan merupakan keinginan untuk mengembalikan kehidupan pada alam yang telah hancur. Masuknya tiga anak nakal secara tidak sengaja menggoyahkan segel tersebut dan memicu kebangkitan kenangan kuno. Ironisnya, nasib telah menyuguhkan kunci untuk membebaskan hati yang tertutup dan membuka pintu menuju harapan masa depan.
Demikianlah, toko permen itu bukan lagi sekadar tempat nostalgia, melainkan telah berubah menjadi lokasi di mana legenda dan kenyataan saling bersinergi, dan roh kuno kembali berbicara kepada manusia.

















































