Sinopsis
Budi Santoso menjalankan sebuah bengkel kecil yang sepi di pinggiran kota. Dikejar oleh hutang yang menumpuk, hari-harinya diliputi keputusasaan. Dia memiliki peninggalan misterius yang ditinggalkan oleh ayahnya yang telah meninggal — sebuah Tangan Monyet. Menurut legenda, benda itu dapat mengabulkan keinginan sebanyak tiga kali seumur hidup, namun setiap pemenuhannya selalu datang dengan harga berupa bencana mengerikan.
Sejauh ini, Budi telah mencoba dua kali mengajukan keinginan kecil. Pertama, untuk pemulihan bengkel secara perlahan, lalu untuk penyelesaian masalah-masalah sepele, seolah keberuntungan mulai tersenyum padanya. Namun, tak lama setelah itu, deretan kesialan dan kecelakaan menimpanya, yang menuntut pengorbanan tak terduga. Istrinya, Siti, mengenang peristiwa mengerikan di masa lalu dan semakin merasakan kecemasan menjelang penggunaan terakhir Tangan Monyet itu.
Pada suatu malam ketika keadaan bengkel sudah tidak dapat diperbaiki, Budi yang putus asa akhirnya mengambil keputusan. Di dalam gudang bengkel yang dingin dengan cahaya redup, dengan tangan yang gemetar, ia menyentuh Tangan Monyet sambil berbisik, "Kembalikanlah sinar bagi bengkel kecil ini..." Saat itu juga, peninggalan itu bergerak pelan, seolah benang nasib mulai teranyam.
Keesokan paginya, terjadilah peristiwa yang mendekati keajaiban. Secara tiba-tiba, seorang investor misterius muncul dan menyuntikkan uang dalam jumlah besar ke bengkel, sehingga peralatan mendapatkan nafas baru dan semangat pun kembali menghidupkan seluruh kota. Budi diliputi sukacita, seolah semua penderitaannya lenyap sejenak. Namun, di balik harapan manis itu, selalu terselip harga yang harus dibayar.
Seiring berjalannya waktu, kecelakaan-kecelakaan misterius kian sering terjadi di dalam bengkel, dan mesin-mesin mulai rusak satu per satu. Lebih parah lagi, kondisi Siti memburuk dengan cepat, dan para dokter akhirnya menyerah terhadap harapan terakhir. Investasi yang dianggap sebagai keajaiban itu pun membangkitkan keterlibatan dengan dunia gelap, sehingga serangkaian bencana terus menimpa. Budi mulai menyadari beratnya kutukan yang ditimbulkan oleh keinginannya sendiri.
Dalam malam yang penuh keputusasaan, Budi duduk sendiri di salah satu sudut bengkel, mengenang harapan yang telah hilang dan tragedi yang terus menimpa. Pernah ada momen-momen kecil bahagia dan secercah penyelamatan yang tampak singkat, namun semuanya hanyalah pertanda akan bencana yang lebih besar. Saat ia menatap Tangan Monyet yang tersisa di atas meja, ia menyadari kenyataan dingin bahwa semua keinginan hanyalah permainan kekuatan nasib yang besar, dan kehendak manusia tidak mampu melawannya sedikit pun.
Pada saat itu, Tangan Monyet pun kembali bergerak sedikit, seolah mengubah bentuknya untuk memanggil korban selanjutnya. Budi hanya bisa terpaku dengan tatapan bingung, menyaksikan momen di mana dirinya telah menjadi bagian dari kutukan yang ironis. Meskipun bengkel kecil itu tampak telah meraih kejayaannya kembali, harganya adalah senyuman dan kebahagiaan keluarganya yang tak tergantikan. Udara di bengkel dan di seluruh kota yang diselimuti malam gelap membawa nuansa kegilaan, sementara Tangan Monyet bersinar dengan tenang seolah sedang mengincar mangsa berikutnya.

















































