Sinopsis
Pada suatu malam, Ayu mendengar mimpi dari neneknya yang mendorongnya untuk menempuh jalan menuju desa pegunungan tempat tinggal kakek Budi. Di tengah perjalanan, ia berhenti ketika melihat sebuah rombongan aneh yang muncul secara tiba-tiba di dalam hutan yang remang-remang. Rombongan itu merupakan bagian dari upacara mengerikan yang dikenal di daerah tersebut sebagai 'Pengiriman Rawa', yang mengantarkan mereka menuju rawa yang basah. Di depan barisan, terdapat seorang pria yang mengenakan mahkota Rumput Bermuka, sebuah rumput misterius dengan ukiran menyerupai wajah manusia. Tatapannya begitu dingin, seolah-olah mampu menembus hati para yang masih hidup.
Dengan perasaan takut, Ayu mengikuti rombongan itu dan sempat menyaksikan barisan yang perlahan terserap oleh kabut tipis, namun rombongan itu segera menghilang. Dengan campuran perasaan lega dan cemas, ia bergegas menuju rumah kakek. Sesampainya di sana, ia disambut oleh kehangatan yang akrab, tetapi ketika ia dengan susah payah menceritakan kejadian yang dialaminya, wajah Budi menjadi mendung dan ia tak mampu menyembunyikan kegentarannya.
Kakek Budi kemudian mulai bercerita dengan suara lembut. Dahulu kala, ia pun pernah mengalami rombongan 'Pengiriman Rawa' yang sama, dan pada waktu itu, dalam bayangan mimpinya, ia melihat sosok nenek Ayu yang sangat dicintainya berpadu dengan gambaran Rumput Bermuka. Pada masa mudanya, ia menanam Rumput Bermuka di ladang sebagai bagian dari upacara rahasia yang tak pernah diungkapkan kepada siapa pun, dengan tujuan untuk meredam dendam yang menghantui hatinya. Namun, perbuatan itu lambat laun berubah menjadi kutukan, yang kemudian memanggil makhluk-makhluk aneh yang menuntut balasan.
Saat malam semakin larut dan angin mulai menerjang desa, rombongan 'Pengiriman Rawa' muncul kembali di depan rumah kakek. Di sela-sela barisan tersebut, sebuah bunga layu diletakkan dengan lembut di lantai, kemudian dari balik kabut, bayangan nenek muncul dan berbisik dengan suara rendah: "Atasi kesalahan ini dan sambutlah cahaya baru." Air mata pun menggenang di mata Budi, seolah penderitaan dan rahasia yang telah lama ia pikul terangkat seketika.
Tak sangka, bahwa Rumput Bermuka itu, begitu pula rombongan Pengiriman Rawa, ternyata adalah utusan yang menyampaikan penebusan dosa masa lalu dan rekonsiliasi menuju masa depan. Menyaksikan perubahan nasib yang mengejutkan itu, Ayu menguatkan tekadnya untuk melangkah maju dan memutus kutukan yang telah lama membelenggu keluarganya.

















































