Sinopsis
Dimas, satu minggu setelah kematian ibunya, berjalan menuju meja makan dengan perasaan tertekan oleh suasana aneh yang menyelimuti rumah.
Di meja makan, terdapat ketegangan luar biasa yang berbeda dari biasanya. Ayah, yang dulu penuh kehangatan, kini telah kehilangan kehangatannya dan dengan tatapan dingin menaburkan garam secara berlimpah ke atas sayuran, sambil mengeluarkan perintah tegas, "Jangan pernah mengungkapkan rahasia ini," sehingga Dimas tidak punya pilihan lain selain mematuhinya.
Di tengah upacara makan tersebut, Dimas menyimak desahan dan bisikan lembut dari ayahnya. Tak lama kemudian, lampu di ruangan itu padam seketika, dan saat menyala kembali, ayah tiba-tiba berbisik, "Aku sudah menunggu."
Di tengah meja, muncullah sebuah bayangan samar yang seolah merupakan sosok ibunya—sosok yang seharusnya tidak pernah kembali. Dengan menahan air mata, ayah menceritakan tentang ritual terlarang kuno yang telah diwariskan turun-temurun, sebuah upacara untuk menyambut kehadiran ibunya yang ternyata juga merupakan kutukan yang akan mengikat keluarga dalam kegelapan abadi.
Sesungguhnya, ayah tidak dikuasai oleh kegilaan, melainkan melakukan tindakan yang ditentukan oleh takdir, terjebak antara keputusasaan mendalam dan cinta yang tulus. Namun, harga yang harus dibayar terlalu berat, seolah kristal-kristal garam perlahan mengunci ikatan kekeluargaan. Dengan suara bergetar, Dimas berbisik, "Dengan ini, ibu tidak akan pernah kembali lagi." – Dan pada malam itu, meja makan yang menahan nafas itu terbungkus dalam kesedihan yang abadi.

















































