Sinopsis
Dahulu kala, di suatu tempat, hiduplah seorang kakek yang jujur. Setiap hari, kakek tersebut pergi ke kuil untuk beribadah. Tuhan, saya sangat miskin dan tidak memiliki apapun untuk dipersembahkan. Mohon ampunilah saya, doanya.
Suatu hari, ketika ia sedang berdoa di kuil, tiba-tiba Tuhan muncul di depannya. Saya terharu dengan ibadah harianmu. Ini untukmu, katanya sambil memberikan sebuah kain merah. Jika kau mengenakannya, kau akan bisa mengerti suara burung.
Dalam perjalanan pulang, kakek segera mencoba kain merah tersebut. Ia mendengar suara dua burung yang bertengger di cabang pohon dan tiba-tiba bisa memahami kata-kata mereka. Manusia itu bodoh. Putri kaya itu tidak akan sembuh dengan obat apapun, kata salah satu burung.
Burung lainnya menambahkan, Benar. Ketika rumah dibangun, ia tidak menyadari ada ular yang terperangkap di loteng.
Kakek itu bergumam, Oh, benar, benar, dan segera menuju rumah si kaya. Saya seorang peramal. Di loteng ada ular yang terperangkap. Jika kau membebaskannya, putrimu akan sembuh, katanya.
Orang kaya itu mengira itu lelucon, tetapi ia memanggil tukang kayu untuk memeriksa loteng. Dan ternyata, ada ular besar yang dipaku di tiang. Tukang kayu itu mencabut paku dan membebaskan ular tersebut.
Anehnya, putri yang sakit lama itu sembuh dan bangkit dari lantai. Saya sangat berterima kasih, kata orang kaya itu sambil memberikan banyak uang kepada kakek.
Kakek tersebut membagikan uang itu dengan warga desa lainnya, dan bagian dirinya dipersembahkan kepada Tuhan.


















































