Sinopsis
Dahulu kala, ada seorang tuan tanah di sebuah desa. Tuan tanah tersebut memiliki dua anak laki-laki, seorang anak sulung dan seorang anak kedua, serta harta yang diwarisi dari generasi sebelumnya. Namun, ia kehilangan istrinya dan merasa sangat sedih. Tuan tanah itu ingin kedua putranya membagi harta secara merata, sehingga ia meninggalkan wasiat. Dalam wasiat tersebut tertulis, Harta saya harus dibagi antara kalian berdua. Jangan ada perselisihan mengenai warisan.
Namun, setelah itu, tuan tanah tersebut meninggal dunia karena kecelakaan. Anak sulung menemukan wasiat tersebut dan berkata, Mari kita patuhi wasiat ayah. Aku akan memberikan setengah untukmu, tetapi tidak boleh ada keberatan, kan?
Anak kedua menjawab, Tidak ada keberatan, Kak. Mereka berdua sepakat untuk membagi harta tersebut. Namun, mereka mulai bingung tentang bagaimana membagi lima ekor kuda.
Bagaimana kalau kita jual satu ekor kuda dan bagi uangnya? saran anak kedua.
Tidak, aku tidak mau menjual satu ekor pun! bantah sang kakak. Apa yang harus kita lakukan?
Mereka berdua berpikir sepanjang malam dan memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter bijak dari kota sebelah.
Dokter, kami memiliki masalah. Menurut wasiat ayah, harta kami harus dibagi secara merata, tetapi membagi lima ekor kuda berdua itu sulit, kata sang kakak.
Dokter berpikir sejenak dan kemudian berkata, Hmm, ada lima ekor kuda. Sebenarnya, saya memiliki satu kuda untuk pasien. Jadi, totalnya menjadi enam ekor. Kita bertiga bisa membagi kuda ini menjadi dua ekor masing-masing.
Mata kedua saudara itu berbinar, Ah, begitu! Kalau begitu, masalah ini terpecahkan! Mereka merasa senang. Mereka berterima kasih atas saran dokter itu, tetapi mereka tidak menyadari bahwa itu artinya mereka harus membayar lebih kepada dokter. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memberikan satu ekor kuda sebagai imbalan kepada dokter.
Benar, dokter memang sangat bijaksana, pikir kedua saudara itu.
Dengan demikian, kedua saudara itu berhasil membagi kuda dengan baik, sambil mengucapkan terima kasih atas kebijaksanaan dokter, mereka hidup bersama dengan harmonis.

















































