Sinopsis
Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Joko. Joko dikenal sebagai orang yang ceroboh dan sering lupa janji-janji yang diucapkannya. Suatu hari, ia berjanji kepada sahabatnya, Budi, untuk membantunya merawat kebun sayuran. Namun, saat hari itu tiba, Joko malah pergi memancing dan melupakan janjinya.
Melihat ketidakpedean Joko, Budi pun mencari cara agar Joko tidak melupakan janjinya lagi. Ia memberi Joko sebuah pena dan selembar kertas. 'Tulislah semua janji yang kau buat, dan ingatlah, tulisan itu akan menjadi saksi bisu,' kata Budi bijak. Joko pun terinspirasi dan mulai menuliskan semua janjinya di kertas yang ia bawa.
Minggu demi minggu berlalu, Joko secara rutin menuliskan janji-janji yang ia buat. Tidak hanya untuk Budi, tetapi juga untuk semua temannya. Suatu hari, saat ia sedang membaca catatan janji-janji tersebut, Joko teringat bahwa ia telah berjanji untuk mengadakan pesta ulang tahun untuk neneknya. Joko sangat terkejut karena ia hampir saja melewatkan hari istimewa itu!
Dengan catatan di tangannya, Joko segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk pesta neneknya. Ketika hari itu tiba, semua orang berkumpul, dan nenek Joko sangat bahagia. Joko menyadari betapa pentingnya untuk menuliskan janji-janji yang dibuatnya. Sejak saat itu, ia tidak pernah melupakan makna dari peribahasa, 'yang ditulis memiliki suara,' dan Joko pun menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.












