Sinopsis
Kisah Si Tua Pakde
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh pegunungan, hiduplah seorang lelaki tua bernama Pakde Ali. Pakde Ali terkenal sebagai orang yang sangat pelit. Ia memiliki segalanya: rumah besar, kebun buah-buahan yang subur, dan tabungan di bank yang cukup untuk menghidupi seluruh desa. Namun, ia selalu menolak untuk berbagi sedikitpun kepada orang lain.
Suatu hari, ketika semua orang desa bersiap merayakan festival panen, Pakde Ali malah mengurung diri di rumahnya. Ia berkhayal tentang semua kekayaannya. “Jika aku mati, uangku akan menjadi milik siapa?” pikir Pakde Ali. “Biarlah mereka semua merayakan, aku tak perlukan festival itu! Uangku lebih berharga.” Dalam pikirannya, ia membayangkan sebuah patung emas dengan namanya terukir di atasnya, sebagai simbol keabadian dan kesuksesan.
Tetapi, tak ada yang tahu, saat Pakde Ali mengeluh sendiri, ia merasakan sakit di dadanya. Ketika dokter datang, dia sudah tergeletak tak bernyawa di ruang tamunya, dikelilingi oleh tumpukan uang dan surat-surat investasi. Dengan penuh keterkejutan, semua orang desa bergegas menghampiri rumah Pakde Ali. Mereka memandang tubuhnya yang terkapar dan berbisik, “Siapa yang akan mendapatkan harta Pakde Ali sekarang?”
Akhirnya, mereka sepakat untuk mengadakan pemakaman yang meriah untuk Pakde Ali. “Biarkan kita merayakan hidupnya yang pelit,” seru salah satu warga. Mereka membawa makanan, minuman, dan bahkan musik ke pemakaman. Sejak saat itu, semua orang di desa itu menyadari bahwa tidak ada gunanya hidup kaya jika kita tidak pernah berbagi. “Inilah makna ‘mati itu miskin’,” kata salah satu warga, sambil tersenyum getir. “Setidaknya, dia bisa merasakan bagaimana rasanya miskin di hari terakhirnya!”









